​Membumikan Nalar Gerakan: Evaluasi dan Reorientasi Kaderisasi PC PMII Rembang ​



​Pendahuluan: Membaca Arah Kompas Pergerakan

​Sebagai organisasi yang baru menapaki usia 13 tahun, PC PMII Rembang berada pada fase krusial: transisi dari pencarian jati diri menuju kematangan organisasi. Dengan estafet kepemimpinan yang baru bergulir selama 7 generasi, kita memikul beban sejarah untuk membuktikan bahwa PMII di Tanah Rembang bukan sekadar pelengkap angka, melainkan poros utama gerakan mahasiswa. Namun, untuk melompat lebih jauh, kita harus berani berkaca pada realitas yang ada di internal kita sendiri.

​Kondisi Riil: Kekuatan Angka dan Tantangan Stabilitas

​Saat ini, database PC PMII Rembang mencatat sebanyak 449 kader aktif. Angka ini adalah aset sekaligus tanggung jawab besar. Keberadaan 449 pikiran dan raga ini merupakan energi potensial yang jika dikelola dengan tepat akan menjadi kekuatan pendobrak di Kabupaten Rembang.

​Namun, kita tidak boleh menutup mata bahwa perjalanan kepengurusan periode ini diawali dengan tantangan konsolidasi yang cukup berat. Dinamika pasca-Konferensi Cabang (Konfercab) membutuhkan waktu hingga 6 bulan untuk benar-benar reda dan mencapai titik temu stabilitas. Masa transisi yang panjang ini sedikit banyak telah menyita energi organisatoris kita, yang seharusnya bisa lebih awal dikonversi menjadi kerja-kerja kaderisasi yang produktif.

​Evaluasi Kritis: Akar Masalah dan Pendewasaan

​Dalam kacamata evaluasi, ada dua variabel utama yang menghambat akselerasi kaderisasi di Rembang:

  1. Optimalisasi Peran Senior: Sebagai cabang yang baru berusia 13 tahun dengan 7 generasi kepengurusan, struktur "Seniorsitas" atau Majelis Pembina Cabang (Mabincab) serta Ikatan Alumni (IKA) kita masih dalam proses penguatan. Harus diakui, peran dan pendampingan senior belum sepenuhnya maksimal dalam memberikan arah strategis maupun dukungan infrastruktur gerakan. Hal ini membuat pengurus cabang seringkali harus "berlari sendirian" dalam merumuskan pola kaderisasi tanpa bimbingan mentor yang berkelanjutan.
  2. Efek Residu Dinamika Politik Organisasi: Waktu 6 bulan untuk meredakan tensi pasca-Konfercab menunjukkan bahwa kedewasaan berorganisasi kita masih diuji. Fragmentasi yang sempat terjadi sempat menghambat distribusi instruksi dari Cabang ke level Komisariat dan Rayon, sehingga ritme kaderisasi di bawah sempat mengalami deselerasi.

​Strategi Transformasi: Menuju Kaderisasi Organik

​Melihat kondisi tersebut, di sisa masa khidmat ini, PC PMII Rembang harus melakukan langkah taktis:

  • Rekonsiliasi Total dan Digitalisasi: Memaksimalkan data 449 kader tersebut ke dalam sistem pemetaan minat dan bakat (Sistem Informasi Kader). Kita tidak boleh lagi kehilangan momentum hanya karena urusan internal yang belum tuntas.
  • Fostering Senior-Junior Relationship: Membuka ruang dialog yang lebih intens dengan para pendahulu (7 generasi sebelumnya) untuk menjembatani pengalaman masa lalu dengan tantangan masa kini. Kita butuh transfer pengetahuan (knowledge transfer) agar tidak selalu memulai dari nol.
  • Penguatan Ideologi Pasca-Dinamika: Menjadikan dinamika 6 bulan kemarin sebagai pelajaran tentang pentingnya nilai Persaudaraan dalam NDP (Nilai Dasar Pergerakan). Kaderisasi ke depan harus lebih menekankan pada aspek kolektifitas daripada ego sektoral.

​Penutup: Menatap Masa Depan

​13 tahun adalah usia remaja bagi sebuah organisasi, usia yang penuh semangat namun juga rentan. Dengan 449 kader aktif, PC PMII Rembang memiliki modal yang lebih dari cukup untuk mewarnai kebijakan daerah dan mencetak intelektual organik. Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa 7 generasi yang telah lewat menjadi fondasi yang kokoh, bukan sekadar pajangan sejarah.

​Mari kita pastikan, bahwa pasca badai dinamika yang telah reda, yang tersisa hanyalah semangat untuk bergerak, berproses, dan bermanfaat bagi masyarakat Rembang.

Tangan Terkepal dan Maju ke Muka!

Salam Pergerakan!


Penulis: Zubairul Kamal I'tazza

Editor: Tim Media PMII Rembang 


0 Komentar